ANALISIS NILAI KOEFISIEN LIMPASAN PERMUKAAN PADA EMBUNG KECIL UNTUK PERTANIAN DI PULAU FLORES BAGIAN TIMUR

Denik Sri Krisnayanti

Abstract


Pulau Flores bagian timur yakni di daerah Kabupaten Flores Timur, Sikka, Ende, dan Nagekeo merupakan kawasan yang masuk dalam kategori semi-arid. Daerah tersebut memiliki curah hujan rata-rata bulanan yang hanya berkisar antara 57,17 188,08 mm/bulan, sementara evapotranspirasi rata-rata bulanan yang terjadi lebih tinggi, yakni berkisar antara 164,91 185,57 mm/bulan. Oleh karena itu, jumlah ketersediaan air pada musim kemarau cukup rendah, sehingga perlu dilakukan upaya pemanenan air hujan dengan memperbesar kapasitas tampungan permukaan. Salah satu alternatif yang tepat ialah dengan membangun embung. Parameter penting dalam perhitungan ketersediaan jumlah air pada embung ialah nilai koefisien limpasan. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mendapatkan nilai koefisien limpasan permukaan pada 15 buah embung di Pulau Flores bagian timur dengan menggunakanan data curah hujan dan data klimatologi terbaru.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan metode analisis matematis diperoleh nilai koefisien limpasan permukaan pada embung kecil di Pulau Flores bagian timur berkisar antara 0,00 - 0,72. Untuk nilai koefisien limpasan permukaan terendah terjadi pada bulan November yang hanya berkisar antara 0,00 0,39 dan nilai koefisien limpasan tertinggi terjadi pada bulan Januari yakni berkisar antara 0,48 0,72.


Keywords


embung, evapotranspirasi, koefisien limpasan

References


Asdak, Chay.2010. Hidrologi dan Pengelolahan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: UGM-Press.

Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2016. Provinsi Nusa Tenggara Timur Dalam Angka Tahun 2016. Jakarta : CV. Nario Sari.

Kasiro, dkk. 1994. Pedoman Kriteria Desain Embung Kecil untuk Daerah Semi Kering Di Indonesia. Bandung: Puslitbang Pengairan.

Montarcih, Lily, dkk. 2013. Statistika Terapan untuk Teknik Pengairan. Malang: Citra Malang.

Montarcih, Lily. 2013. Hidrologi Praktis. Yogyakarta: Lubuk Agung

Pusat Litbang SDA Bandung. 2016. Rainfall Runoff Model. Bandung: Balitbang Departemen PU.

Soemarto,CD. 1987. Hidrologi Teknik. Surabaya : Usaha Nasional

Sujendro, 2014.Ketersediaan Dan Kebutuhan Air Irigasi Pada Rencana Embung Jetis Suruh, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Jurnal Teknik, Janabrada. 2 (2). http://jurnalteknik,janabrada.ac.id/?page_id=155. (Diakses 11 November 2016 pukul 19.24 wita.)

Tambun, Nohanamian. 2011. Perhitungan Debit Andalan Sebagai Sumber Air Bersih PDAM Jayapura. Digital Librari, ITS. 33001120000215.

http://digilib.its.ac.id/ITS-Undergraduate-33001120000215/19529. (Diakses 11 November 2016 pukul 21.35 wita.)

Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Cetakan Kedua. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Firmansyah, Hilman. 2011. Pengertian Dalam Buletin Analisis Hujan, http://staklimlasiana. blogspot.com/2011/05/pengertian-dalam-buletin-analisis-hujan.html (Diakses 28 Febuari 2017 pukul 17.08)

Panjaitan, Djuang. 2012. Kajian Evapotranspirasi Potensial Standar Pada Daerah Irigasi Muara Jalai Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Jurnal Aptek. 4 (1), http://e-journal.upp.ac.id/ index.php/aptk/article/view/55.(Diakses 11 November 2016 pukul 20.00 wita.)




DOI: https://doi.org/10.32679/jsda.v14i2.325

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 JURNAL SUMBER DAYA AIR

Indexed by:
   Sinta Science and Technology IndexCrossref logo              
 
 
 
Sekretariat:
 
Bina Teknik Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat