ANALISIS KEKERINGAN METEOROLOGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEX DI KUPANG – NUSA TENGGARA TIMUR

Denik Sri Krisnayanti, Mirnawati S Pasoa, Remigildus Cornelis

Abstract


ABSTRACT

Kupang City and Kupang Regency have semiarid climatological conditions where annual rainfall ranges from an average of 1,250 mm/year. Kupang City and Kupang Regency experience long days without rain, which potentially causes meteorological drought. The study aims to determine the value and distribution of the drought index in Kupang City and Kupang Regency. This study uses the Standardized Precipitation Index (SPI) method using rainfall data for 21 years (1998-2018) from 12 rainfall stations, while the mapping uses ArcGIS Software. The results obtained from this study are the extreme level of drought in Kupang Regency and Kupang City occurred in 2015-2016. A 1-month SPI Kupang City experienced the highest drought in January 2004 at -3.48, while Kupang Regency occurred in November 2015 at -3.06.  The 3-month SPI Kupang City experienced the highest drought in January 2016 at -3.85, while Kupang Regency occurred in December 2012 at -4.13. The 6-month SPI of  Kupang City experienced the highest drought in January 2016 at -4.04, while Kupang Regency occurred in November 2015 at -4.82.  The 12-month SPI Kupang City experienced the highest drought in March 2016 at -3.76, while Kupang Regency occurred in April 2016 at -3.36. The 6-month SPI tends to fluctuate more in value than the 1-month SPI, 3-month SPI, and 12-month SPI. The drought years that occurred in 2015 – 2016 triggered forest and land fires in Kupang City. Besides that,  the Meteorological drought must be anticipated by setting appropriate cropping patterns to avoid food insecurity.

Keywords: Drought, semiarid, land fires, mapping

 

ABSTRAK

Kota Kupang dan Kabupaten Kupang merupakan daerah yang memiliki kondisi klimatologi semi-ringkai dimana curah hujan tahunan berkisar rata-rata 1.250 mm/Tahun. Kota Kupang dan Kabupaten Kupang mengalami hari tanpa hujan yang panjang sehingga berpotensi menyebabkan kekeringan meteorologis. Studi ini bertujuan untuk mengetahui nilai dan hasil sebaran indeks kekeringan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Analisis ini menggunakan Metode Standardized Precipitation Index (SPI) dengan menggunakan data curah hujan selama 21 tahun (1998-2018) dari 12 pos hujan, sedangkan pemetaan menggunakan Software ArcGIS. Hasil yang didapatkan adalah tingkat kekeringan terparah terjadi di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang terjadi tahun 2015-2016. Untuk perhitungan SPI-1, Kota Kupang mengalami kekeringan tertinggi pada bulan Januari tahun 2004 sebesar -3,48, sedangkan Kabupaten Kupang terjadi pada bulan November tahun 2015 sebesar -3,06. Pada perhitungan SPI 3, Kota Kupang mengalami indeks kekeringan tertinggi pada bulan Januari tahun 2016 sebesar -3,85, sedangkan Kabupaten Kupang terjadi pada bulan Desember tahun 2012 sebesar -4,13. Pada perhitungan SPI-6, Kota Kupang mengalami indeks kekeringan tertinggi pada bulan Januari tahun 2016 sebesar -4,04, sedangkan Kabupaten Kupang terjadi pada bulan November tahun 2015 sebesar -4,82. Pada perhitungan SPI-12, Kota Kupang mengalami indeks kekeringan tertinggi pada bulan Maret tahun 2016 sebesar -3,76, sedangkan Kabupaten Kupang terjadi pada bulan April tahun 2016 sebesar -3,36. Indeks kekeringan SPI-6 cenderung lebih fluktuatif dibandingkan SPI-1, SPI-3, dan SPI-12. Kondisi tahun kering yang pernah terjadi tahun 2015 – 2016 memicu timbulnya kebakaran hutan dan lahan di Kota Kupang. Selain itu, kekeringan meteorologi harus diantisipasi dengan pengaturan pola tata tanam yang tepat guna menghindari rawan pangan.

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.32679/jsda.v19i1.793

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 Bintek SDA

Indexed by:
         
 
Sekretariat:
 
Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.